Home » Opini » MENGEMBALIKAN KARAKTER BANGSA MELALUI PENGUATAN KAPASITAS IBU
ilustrasi dakwatuna.com
ilustrasi dakwatuna.com

MENGEMBALIKAN KARAKTER BANGSA MELALUI PENGUATAN KAPASITAS IBU

Jakarta  sebagai  kota megapolitan, tentunya   akan menghadapi  berbagai  menghadapai masalahan yang sangat kompleks, sebagaimana laiknya sebuah kota besar lainnya.   Jakarta selain sebagai pusat pemerintahan, Jakarta juga merupakan pusat bisnis dan keuangan.  Di Asia, Jakarta merupakan salah satu kota   dengan masyarakat kelas menengah cukup besar.  Pada tahun 2009, 13% masyarakat Jakarta berpenghasilan di atas US$ 10.000.  Jumlah ini, menempatkan Jakarta sejajar dengan Singapura, Shanghai, Kuala Lumpur dan Mumbai.   Kompleksitas permasalahan yang terjadi tentunya menjadi sebiah tantangan  bagi Pemerintah Propinsi DKI Jakarta dan masyarakat dalam membangun  Jakarta menjadi sebuah kota yang nyaman, aman dan dinamis buat masyarakat dan pertumbungan  ekonomi.

Permasalahan ini tentunya  memerlukan penanganan yang komprehensif. Konflik sosial politik,  masih lemahnya penegakan hukum,   kebebasan tak terkendali dan unjuk kekuatan-anarkis,   lambatnya pemulihan ekonomi daerah,  masih tingginya angka pengangguran dan kemiskinan, dan   belum memadainya kapasitas kelembagaan dan kualitas aparatur daerah, semua ini menjadi  masalah kota yang tidak dapat dilepaskan dari masalah nasional secara keseluruhan bahkan menjadi bagian dari masalah nasional.  Di sisi lain  permasalahan   khas dan menonjol yang dihadapi Jakarta   adalah:   ancaman bahaya banjir,   belum tertanganinya secara baik sampah kota,  belum tertibnya lalu lintas kota,   meningkatnya pedagang K-5 dan PMKS rendahnya  peranserta masyarakat dalam pembangunan, serta   keterbatasan daya dukung lahan dan lingkungan hidup kota. Entitas masyarakat yang paling merasakan implikasi   dampak permasalahan ini tentunya adalah keluarga. Keluargalah, melaui individu-individu bagian dari anggota keluarga  yang  secara langsung maupun tidak  berhubungan dan berinteraksi dengan pergulatan persoalan sosial, ekonomi, budaya, politik  dalam kehidupan sehari-hari.

Situasi Ekonomi yang nggak jelas   sulit untuk  dinafikan  bahwa  tidak berdampak terhadap situasi politik,  sosial ekonomi masyarakat, artinya semua sub system sosial itu saling berkait dan memberikan kontribusi  memperparah keadaan yang ada,  misalnya  krisis ekonomi,  berdampak terhadap meningkatnya  pengangguran dan merosotnya pendapatan masyarakat . Kondisi  ini menyebabkan semakin banyaknya keluarga yang tidak dapat lagi membiayai pendidikan putra-putrinya terutama pada pendidikan tingkat SLTA ke atas, akibatnya  jumlah anak usia sekolah yang putus sekolah semakin besar dan mereka terpaksa bekerja untuk menopang kehidupan ekonomi keluarga, ini tentunya  menjadi  hal yang sangat kontra-produktif dengan program wajib belajar 9 tahun. Realita ini kemudian diperkuat dengan  system  pendidikan  yang ternyata juga belum  kondisif    mendukung tercapainya proses belajar-mengajar yang lebih baik., yang pada akhirnya melahirkan   perilaku remaja yang bermasalaha mulai tawuran pelajar, narkoba, perilaku seks bebas, dan tindakan  kriminal lainnya.  Sementara muatan kurikulum yang berorientasi pada penguatan akhlak dan moral serta pendidikan agama masih hanya pada tataran teori  belum pada  praktek dan implementasi, dan kehilangan keteladanan yang baik dari para pendidik,  akibatnya   dunia pelajar masih kurang memiliki kepekaan yang cukup untuk membina dan mengembangkan sikap toleransi dan kebersamaan dalam perbedaan.  

Begitu juga  ketika terjadi  persoalan    sosial budaya,   yang merupakan aspek yang sangat luas  yakni  kehidupan beragama, kesejahteraan sosial, pemberdayaan masyarakat, dll.  Peristiwa-peristiwa yang bersifat primordial dan partisan, menjadi hal yang sulit terelakkan akibat beragamanya masyarakat yang tinggal di Propinsi DKI Jakarta   Sebagian dari mereka terutama akar rumput (grass-root) sangat fanatik terhadap kelompoknya sendiri dan menganggap kelompok lain sebagai saingan atau musuhnya. Kondisi ini dapat menimbulkan ketegangan dalam masyarakat sehingga mudah emosi dan terprovokasi menjadi perkelahian masal antar warga  masyarakat. Konflik sosial semacam ini sering terjadi di sejumlah wilayah dengan latar belakang dan penyebab yang sangat sederhana.

 

Implementasi pemahaman yang keliru  terhadap demokrasi belakangan ini telah menjurus pada kebebasan yang tak terkendali dimana, akibatnya    masyarakat merasa bebas untuk berbuat apa saja, tanpa mengindahkan hukum. Kebebasan dan unjuk kekuatan telah menjadi model dan instrumen untuk menyampaikan tuntutan, yang bila tidak dikendalikan berpotensi menjadi tindakan-tindakan anarkis yang sangat meresahkan dan mengganggu kehidupan normal masyarakat.  Persoalan sosial lainnya yang timbul   adalah semakin banyaknya penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Sebagian dari mereka adalah para pengamen, pedagang di lampu lalu lintas, pengemis dan anak jalanan yang memerlukan perhatian dan pertolongan di satu sisi tetapi juga dibutuhkan ketegasan dalam penanganannya di lain pihak, karena berpotensi mengganggu ketenteraman dan ketertiban  umum.

 

Itulah gambaran ruwetnya  kehidupan di Jakarta, yang membutuhkan  penanganan yang komprehensif. Namun apa yang terjadi saat ini, di satu sisi masyarakat menuntut  dan mengangap pemerintah daerahlah  yang harus bertanggungjawab menyelesaikan segala persoalan yang  ada, karena merupakan tanggungjawab pemimpin terhadap masyarakat   Sementara  pemerintah juga  menganggap masyarakat juga harus bertanggungjawab dan tidak  hanya sekedar menyerahkan kepada pemerintah,  karena masyarakat  masing-masing harus bertanggungjawab  terhadap diri dan keluarga, bukan justru  ber sikap tidak mau tahu, malas  dan  sulit diatur, tidak mau berpartisipasi, dll. Pandangan dan asumsi itu tentunya memiliki alasan,    namun ketika masyarakat dan pemerintah bertahan dengan  perspektif masing-masing,   yang terjadi adalah  kemunduran, keruwetan bahkan berakhirnya  dengan kehancuran semua tatanan yang sudah terbangun sebelumnya .   Muara dari sikap dan perilaku   ini adalah cerminan bahwa kita telah kehilangan karakter bangsa kita, ini juga yang terjadi  pada  masyaraat  DKI .  Kita  kehilangan karakter bangsa yang dimiliki bangsa ini  dari  dulu, padahal sejarah membuktikan bahwa  bangsa ini mampu  bangkit, dan berjuang untuk mengusir penjajah dengan segala keterbatasan.karena bangsa ini masih kental semangat kebangsaan, cinta tanah air,   cinta damai,  peduli sosial ,  tanggung-jawab, sehingga  mampu menyelesaikan masalah di luar logika manusianya.  Logikanya ketika pemerintah daerah memberikan fasilitas dan kemudahan  akses dalam banyak hal baik ekonomi, usaha, kesehatan dan pendidikan misalnya namun masyarakat malas berusaha,  tidak mau menjaga kesehatan dan lingkungan,  tidak mendorong  anak-anak untuk bersekolah. Semua yang disediakan tidak akan memberikan perubahan   pada  kesejahteraan mereka. . Agar masalah ini tidak menjadi kultur masyarakat DKI ke depannya  maka solusi yang paling mendasar yang haris dilakukan disamping upaya yang selama ini telah dilakukan adalah  membangun karekter bangsa di tengah masyarakat, sehingga menjadi ruh penggerak bagi mereka auntuk berpartipasi dalam mebangun kehidupan bermasyarakata yang baik.   

 

Karakter bangsa  dipandang sebagai tata nilai budaya dan keyakinan yang mengejawantah dalam kebudayaan suatu masyarakat dan memancarkan ciri-ciri khas keluar sehingga dapat ditanggapi orang luar sebagai kepribadian masyarakat tersebut. 

Apa saja yang termasuk di dalam karekter bangsa itu antara lain:  Religius,Jujur  
Toleransi, Disiplin Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi,  Bersahabat/Komunikatif, Cinta Damai  
Gemar membaca  Peduli Lingkungan, Peduli Sosial ,  Tanggung-Jawab . Betapa dasyatnya  energi dan potensi  yang dimiliki oleh semua elemen masyarakat  untuk membangun lingkungannya  karena di didorong ” our beloved”. Karena semua orang terdorong untuk melakukan yang terbaik dan ingin memberikan yang terbaik kepada orang lain. Inilah yang kemudian  disebut modal sosial ( Social Capital) yang tumbuh dan bangkit kembali di dalam kehidupan masyarakat.  Pertanyaan selanjutnya  adalah sub system yang mana yang paling efektif dalam  membangun karakter bangsa ini?  Tentunya jawabnya adalah keluarga.  Keluarga sebagai komunitas terkecil dalam suatu masyarakat dan sebagai kelompok utama dalam kehidupan manusia. Dalam setiap keluarga orang belajar mengenal nilai dan norma bagaimana berhubungan dengan orang lain. Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak adalah dasar satuan sosial dan biologis dalam masyarakat. Keluarga merupakan kelompok kecil yang paling penting sebagai subsistem dari masyarakat luas (Khaerudin, 1997:106).

 

Keluarga dalam hubungannya dengan anak diidentikkan sebagai tempat atau lembaga pengasuhan yang paling dapat memberi kasih sayang, kegiatan menyusui, efektif dan ekonomis. Di dalam keluargalah anak-anak pertama kali mendapat pengalaman dini langsung yang akan digunakan sebagai bekal hidupnya dikemudian hari melalui latihan fisik, sosial, mental, emosional dan spritual. Karena ketika anak baru lahir tidak memiliki tata cara dan kebiasaan (budaya) yang begitu saja terjadi sendiri secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lain, oleh karena itu harus dikondisikan ke dalam suatu hubungan kebergantungan antara anak dengan agen lain (orang tua dan anggota keluarga lain) dan lingkungan yang mendukungnya baik dalam keluarga atau lingkungan yang lebih luas (masyarakat), selain faktor genetik berperan pula (Zanden, 1986). Bahkan seperti juga yang dikatakan oleh Malinowski (1930) dalam Megawangi (1998) tentang principle of legitimacy sebagai basis keluarga, bahwa struktur sosial (masyarakat) harus diinternalisasikan sejak individu dilahirkan agar seorang anak mengetahui dan memahami posisi dan kedudukannya, dengan harapan agar mampu menyesuaikannya dalam masyarakat kelak setelah ia dewasa. Dengan kata lain, keluarga merupakan sumber agen terpenting yang berfungsi meneruskan budaya melalui proses sosialisasi antara individu dengan lingkungan. 

Fitzsimmons (1950:25) menguraikan keluarga sebagai lembaga untuk memenuhi fungsi biologis, ekonomis, dan sosial. Nichols, Muwauw, Panther, Plonk dan Price (1971:43) menyatakan bahwa keluarga sebagai agen sosial yang efektif harus mampu memenuhi kebutuhan sosiogenik dan biogenik anggota keluarga.  Makna lain juga ditegaskan  bahwa keluarga adalah institusi sosial yang paling mendasar untuk membangun kebudayaan dan peradaban manusia yang fitri serta menjadi lembaga  infrastruktur dalam kerangka mewujudkan “amanah” yang disanggupinya serta menjadi unit kerjasama sosial yang paling asasi sehingga terciptanya suasana egaliter dan kondusif bagi terlaksananya aturan dan tata nilai    Kebaikan masyarakat, secara moral dan sosial, tergantung pada tatanan keluarga yang stabil. Sedangkan pemahaman dan pengetahuan tentang peran kemasyarakatan setiap anggota keluarga akan menciptakan stabilitas dan kekuatan kasih sayang di dalam masyarakatnya. Sebaliknya, keluarga-keluarga yang goyah dan lemah akan mengguncang sendi-sendi masyarakat.

Selanjutnya, Siapakah pendidik yang karekter yang pertama dan  utama di dalam keluarga,   adalah ibu. Seorang ibu bertugas menanamkan nilai-nilai baik yang akan dipegang oleh sianak dalam kehidupannya. Ibulah yang mengajarkan anaknya semangat juang dan pantang menyerah. Sang ibu juga yang menanamkan nilai-nilai agama, sopan santun dan kesusilaan sehingga anaknya terbekali dengan baik. Keluarga yang baik dan lingkungannya yang kondusif merupakan tempat bagi si anak untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan daya saing.  Di dalam keluarga,   tanpa menafikan  keberadaan seorang ayah, namun yang paling strategis  menjadi  pilar utama  adalah ibu. Sehingga ibu adalah pembangunan peradaban .

 

Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan perempuan merupakan pilar utama dalam pembangunan karakter bangsa dalam peran mereka sebagai ibu di dalam keluarga. Selanjutnya beliau juga mengatakan bahwa kewajiban para ibu dan gerakan kaum perempuan ke depan adalah para ibu wajib ikut bertanggung jawab dalam membangun nilai kepribadian watak dan perilaku anak-anak  menuju terwujudkanya karakter bangsa yang bermoral dan tangguh . Kebersamaan antara orang tua khususnya ibu dengan anak-anak dalam konteks mendidik dan memberikan perhatian haruslah lebih banyak dari waktu anak-anak bertemu dengan guru atau menempuh pendidikan formal. Bahkan Presiden menegaskan, akan sangat membantu bila organisasi perempuan ataupun lembaga swadaya masyakat yang bisa mendorong agar pembangunan karakter bangsa melalui peran ibu kepada anak bisa menjadi isu yang strategis.

Berangkat dari pandangan inilah  penulis berpikir belum terlambat untuk menyelamatkan DKI Jakarta ini dari berbagai permaslahan yang semakin kompleks dan ruwet  , asal semua komponen  masyarakat  mau dan mampu berupaya untuk membangun kembali karakter bangsa melalui proses pembelajaran yang mengakomodasi nilai-nilai mulia bangsa Indonesia. Semoga saja banyak pihak yang tergugah dan mau membangun model pendidikan yang berkarakter Indonesia, untuk menyelamatkan jutaan generasi muda yang saat ini sepertinya telah kehilangan arah.  Tentunya ini menjadi pesan khusus yang disampaikan kepada calon pemimpin DKI ke depannya,  apabila ingin membangun DKI Jakarta sebagai  kota megapolitan yang aman, religious, dinamis, nyaman maka kebijakan dan arah pembangunan yang dibangun  harus dalam paradigm membangun karekter bangsa, dengan memberikan perhatian yang besar dalam penguatan keluarga, khususnya berkaitan dengam  Penguatan kapasitas ibu, baik terkait peningkatan intelektual, dan moralitas, kemandirian ekonomi,  kesehatan yang terjamin,   melalui terbukanya   akses  yang seluas-luasnya  dalam pendidikan formal maupun non formal, pengembangan ekonomi mikro  melalui UMKM  dalam upaya penguatan ekonomi keluarga, perhatian terhadapa kesehatan ibu dan ketrampilan dan skill yang membantu para ibu menjalankan peran strategisnya  sebagai pendidikan generasi peradaban masa depan. Sehingga dengan penguatan kapasitas ibu inilah akan lahir generasi berkualitas baik dari aspek intelekual,  religiutas dan moral serta,  emosional, yang merupakan  perilaku dari bangsa yang berkarekter.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*