Home » Opini » SIAPAKAH PAHLAWAN INDONESIA HARI INI??
ilustrasi: blogkammiumm.blogspot.com
ilustrasi: blogkammiumm.blogspot.com

SIAPAKAH PAHLAWAN INDONESIA HARI INI??

Pertanyaan di atas mungkin menjadi pertanyaan  banyak orang hari ini? Mungkin kita membutuhkan waktu yang lama untuk menjawabnya, karena itu  adalah  sebuah  pertanyaan yang sulit.  Hari ini bangsa  Indonesia  benar-benar dalam  dalam keadaan terpuruk, Negara yang penuh manipulatif, sulit membedakan mana kejujuran dan mana kebohongan, mana wajah yang penuh keihlasan atau wajah ketamakan. Keadilan dan kebenaran menjadi baranglangka yang sulit ditemukan, namun  bisa dibeli atas nama uang. Kejujuran menjadi mahal karena harus bertukar dengan turunnya jabatan atau menjadi korban yang harus dikorbankan untuk sebuah  kepenttingan. Namun semuanya dianggap sebuah kewajaran, walaupun penderiataan rakyat semakin terasakan.

Angka kemiskinan, tingkat pengganguran,  tingkat  korupsi yang tinggi,    peningkatan kasus narkoba, konflik sosial,  tawuran antar warga  dan kalangan pelajar, kebebasan seks, tindakan kekerasan, angka trafficking, dll  menjadi gambaran bahwa masyarakat Indonesia sedang sakit dan  kondisi  yang sangat memprihatinkan.  Persentase  tindakan  destruktig   lebih besar daripada  perbutan konstrukti atau kebaikan yang ada di masyarakat. Kondisi ini kemudian  mengharuskan kita membuat sebuah pertanyaan lanjutan. Apakah keterpurukan bangsa ini menujukkan bahwa  masyarakat sudah apatis dan sudah tidak ada lagi insiator kebaikan yang muncul  dalam masyarakat?. Semua orang disibukkan dengan urusan kepentingan pribadi dan kepentingan partai dan golongan…..  siapa sosok   yang harus bergerak,  mengambil tindakan dan keputusan   di tengah masyarakat  untuk mengatasi masalah masalah terbut?kemana perginya para pemimpin ? kemana pergnya para ulama atau para pemuka agama?, kemana perginya  para pemuda? Kemana perginya  ratusan juta populasi penduduk Indonesia? . Kemana-kemana…? Kita merindukan dan mengharapkan sosok  yang berani melakukan menegakkan kebenaran,  melakukan  perbaikan tatanan rusaknya bangsa ini. Siapa yang akan mengambil  kepedulian dengan menuntaskan kemiskinan?kita butuh sosok dengan ketenangan sikap, kebersihan hati, kejernihan pikiran, keberanian yang bernyali untuk i berani mengambil keputusan  untuk mnyelematkan  bangsa  hari ini?/ Namun betapa sulitnya mencari sosok itu?  

Saat ini Indoensia mengalami krisis, yang juga menjadi  takdir semua bangsa. Apa yang memiriskan hati adalah kenyataan bahwa ketika krisis besar itu terjadi, kita justru mengalami kelangkaan pahlawan. Fakta ini jauh lebih berbahaya, sebab disini tersimpan isyarat kematian sebuah bangsa.


Kebanyakan orang hari ini  berbuat baik  karena punya pamrih.. untuk dipilih untuk dipuji dan untuk kepentingan sesuatu.  Bermain dua wajah, satu wajah dermawan…. Satu wajah penjahat  dan perampok. Hari ini dia membagi-bagikan uang dan sembako atas nama kemanusian dan belas kasih , namun beberapa  bulan   di penjara.. ternyata uang kedermawan di peroleh dengan cara korupsi  ah sungguh kenaifan.semua kamuflase. Pemimpin-pemimpin dinegeri mulai dari level atas sampai bawah yang seharusnya berpihak untuk kepentingan  rakyat karena dia adalah miliki rakyat dan dipilih oleh rakyat  dalam faktanya hanya  memikirkan  segelintir atau sekelompok  orang, ulama  kini disibukkan dengan  urusan poltik praktis yang kehilangan substansi dakwahnya,  para pemuda juga disibukkan dengan  dunia malam dan gegap gempita  hedonism dan konsumerisme. Penegak hukum yang seharusnya menegakkann kebenaran, keadilan   namun ternyata   menjadi pelaku kejahatan, aktor perakayasa   kebenaran dan keadilan palsu yang hanya milik orang penguasa dan pemilik modal.   Pejabat yang seharusnya  menjadi pelindung masayrakat justru menjadi penyelenggara kesesanggraan rakyat..Menangislah…. Bunda pertiwi   sedih melihat kemlaratan Ini kesedihan rakyat dan pertiwi  kita hari ini. 

Kebuntuan penyelsaian permasalhan yang kompleks bangsa ini membutuhkan  orang yang berani  itulah yang justru dibutuhkan… yakni membutuhkan seorang pahlwaan? Seorang  yang sampai akhirnya hayatnya membutkitikan konsisitensi perjuangan kebenarannya…. Samapi  cita=cita perjuangannnya tercapai walaupun menghada[pi berbagai tantangan dan hambatan.

Siapakah yang kita sebut pahlawan? Pahlawan  berasal dari bahasa Sanskerta: phala-wan yang berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama) adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.  

Keberanian  adalah naluri yang melekat pada diri  seorang pahlwan . Pemberani sejati.  adalah pahlawan sejati. Tidak akan pernah seseorang disebut pahlawan, jika ia tidak pernah membuktikan keberaniannya. Pekerjaan-pekerjaan besar atau tantangan-tantangan besar dalam sejarah selalu membutuhkan kadar keberanian yang sama besarnya dengan pekerjaan dan tantangan itu. Sebab, pekerjaan dan tantangan besar itu selalu menyimpan resiko. Dan, tak ada keberanian tanpa resiko.

Naluri kepahlawanan adalah akar dari pohon kepahlawanan. Akan tetapi, keberanian adalah kekuatan yang tersimpan dalam kehendak jiwa, yang mendorong seseorang untuk maju menunaikan tugas, baik tindakan maupun perkataan, demi kebenaran dan kebaikan, atau untuk mencegah suatu keburukan dan dengan menyadari sepenuhnya semua kemungkinan resiko yang akan diterimanya.  Keberanian itu adalah fitrah yang tertanam dalam diri seseorang, namun di sisi lain  juga  biasanya diperoleh melalui latihan. Keberanian, baik yang bersumber dari fitrah maupun melalui latihan, selalu mendapatkan pijakan yang kokoh pada kekuatan kebenaran dan kebajikan, keyakinan dan cinta yang kuat terhadap dan jalan hidup, kepercayaan pada akhirat, dan kerinduan yang menderu-deru kepada Allah. Semua itu adalah mata air yang mengalirkan keberanian dalam jiwa seorang manusia.

Apa  yang terjadi pada sebuah bangsa ketika terjadi kekrisisan   pahlawan?.

Indonesia  berpuluh-puluh tahun dijajah, logika rasional bagaimana bangsa Indonesia melawan  bangsa penjajahan dengan keterbatsan sarana? Merian dan kelengkapan senjata tidak akan mampu dikalahkan oleh bamboo runcing, namun logika rasional tersebut dipatahkan dengan kekuatan yang jauh lebih dasyat dan letupan meriam dan desingan peluru, itulah letupan keberanian dari jiwa yang penuh semangat berkorban, jiwa yang mencintai keadilan, fisik yang tidak akan merasakan lelah dan rasa sakit. Karena sebuah cita-cita besar dan mulia yaitu: “ INDONESIA MERDEKA DAN MEMILIKI MARTABAT”. Dan akhirnya  kemerdekaan itu dapat tercapai atas ruhul atau semangat  perang  karena kecintaan terhadap negeri ini? Perjuangan yang lahir dari semangat  bangsa  yang dikobarkan oleh pahlawan..  dengan kata-kata tajam menusuk kefitrahan hati setiap orang.. bahwa penindasan adalah kejahatan kemanusian yang harus di hapuskan dengan kerja keras, keihlasan, keberanian, kebersamaan dan  perjuangan. Kata-kata  .yang membakar semangat ( ghiroh) masyarakat … dari yang tertidur,  bangun, berdiri dan berlari  meenjadi insiator perubahan dan pembela kebenaran dan keadilan.

Amerika yang saat ini sebagai Negara adidaya dunia,
ternyata  juga pernah mengalami  krisis   ekonomi terbesar dalam sejarah  selama hamper Sembilan tahun yakni  dari  tahun 1929 hingga 1937. Kekritisan itu selanjutnya  disusul  terjadinya   Perang Dunia Kedua ,  lepatnya tahun 1942, dan mereka terlibat di dalamnya ternyata,  menang. Kepercayaan diri mereka atas kemenangan dalam perang dunia ini menjadi amunisi hingga sebagai bangsa yang terkuat dan harus berkuasa sampai saat in.  FD. Rosevelt.  adalah tokoh dibalik kemenangan  dan  menjadi  arsitek membangun tataanan bangsa amerika  yang terpuruk pada masa itu,  padahal dia hanyanya seorang laki=laki  yang lumpuh, dan satu-satunya  yang   terpilih sebanyak empat kali  sebagai presiden. yang pernah.   Mereka  menemukan teori-teori makroekonomi yang saat ini menjadi  dasar teori  dalam kebijakan ekonomi  di Negara manapun , pada sat mereka mengalami krisiis ekonomi berat tersebut.  Ternyata kerja-kerja yang dibangun dan lahir dari pemekiran  besar para pahlawan;  dapat  mengubah tantangan menjadi peluang, kelemahan menjadi kekuatan, kecemasan menjadi harapan, ketakutan menjadi keberanian, dan krisis menjadi berkah.

Harapan adalah lorong kecil yang menyalurkan udara pada ruang kehidupan sebuah bangsa yang tertutup oleh krisis.. Inilah inti kehidupan ketika tak ada lagi kehidupan. Inilah benteng pertahanan terakhir bangsa itu. Tapi benteng itu dibangun dan diciptakan para pahlawan. Mungkin mereka tidak membawa janji pasfi tentang jalan keluar yang instan dan menyelesaikan masalah. Tapi mereka membangun inti kehidupan; mereka membangunkan daya hidup dan kekuatan yang ter tidur di sana, di atas alas ketakutan dan ketidakberdayaan. Itulah yang dilakukan Rosevell. Bangsa yang sedang mengalami krisis, kata Rosevelt, hanya membutuhkan satu hal; motivasi. Sebab, bangsa itu sendiri, pada dasamya, mengetahui jalan keluar yang mereka cari.

Indonesia  masih memiliki harapan untuk membangun sebuah kehidupan yang terhormat dan berwibawa yang dilandasi keadilan dan dipenuhi kemakmuran  Untaian Zamrud Katulistiwa ini masih mungkin dirajut menjadi kalung sejarah yang indah. Tidak peduli seberapa berat krisis yang menimpa kita saat ini. Tidak peduli seberapa banyak kekuatan asing yang menginginkan kehancuran bangsa ini.
Masih mungkin. Dengan satu kata: para pahlawan. Tapi jangan menanti kedatangannya atau menggodanya untuk hadir ke sini. Sekali lagi, jangan pernah menunggu kedatangannya, seperti orang-orang lugu yang tertindas itu; mereka menunggu datangnya Rata Adil yang tidak pemah datang.

Para pahlawan  tidak akan penah datang, karena pada dasarnya  sudah ada di sini.   lahir dan besar di negeri ini. Para pahlawan  itu  adalah aku, kau, dan kita semua, bukan orang lain  bahkan bangsa asing yang  harus turun dari  dunia antah berantah. Permasalahannya adalah karena kita hanya belum memulai, kita membutuhkan komitmen janji  untuk merebut takdir kepahlawanan. Kita memiliki keyakinan  ketika semua itu ada pada kita, maka  dunia akan menyaksikan gugusan pulau-pulau ini menjelma menjadi untaian kalung zamrud kembali yang menghiasi leher sejarah.

Namun sebuah nasehat  buat kita yang bercita-cita menjadi pahlawan sejati  kita  harus ekstra hati-ati dengan kepahlawanan itu sendiri. Kita  harus membiasakan diri untuk mencurigai diri mereka sendiri; sebab jauh lebih penting dari sekadar menjadi pahlawan adalah memastikan bahwa karya-karya kepahlawanan kita diterima di sisi Allah SWT, sebagai pahala yang akan mengantar kita meraih ridha-Nya dan masuk ke surga-Nya, Inilah membutuhkan sebuah keihlasan. Keikhlasan dan ketulusan dalam perjuangan, karena  sebagai para pahlawan   sejati menyadari sedalam-dalamnya untuk siapa sebenamya ia bekerja. Mereka menyadari adanya ancaman kesia-siaan; kerja keras di dunia yang kemudian ditolak di akhirat,  karena niat selain mengharapakan Redho dan balasan dari Zat pemilik diri dan Alam semesta.

Gemuruh lepuk tangan pengagum, sanjungan mematikan para pengikut, dukungan obyeklif para pengamat, atau bahkan tembakan salvo pada hari penguburan adalah objek yang harus dicurigai para pahlawan; sebab merasa menjadi pahlawan bisa merusak niat mereka. Demikian juga dengan cara kita menuntaskan karya kepahlawanan kita; pembenaran orang lain tidak akan berguna di mata Allah SWT kalau temyata pekerjaan itu memang salah menurut sunnah. Para pahlawan  sejati adalah pekerja keras yang menunaikan janji kepahlawanannya dalam diam dan menyelesaikan karya-karyanya dengan semangat kebenaran sejati. Mereka jujur kepada Allah SWT, kepada diri sendiri serta kepada sejarah. Mereka tidak tertarik dengan hingar-bingar pengakuan publik, atau sorotan kamera, sebab itu bukan tujuannya, sebab itu bukan kebanggaannya.

Di hadapan ancaman kesia-siaan itu, mereka menemukan kekuatan untuk mengasah kejujuran batinnya secara terus menerus, mengoreksi pekerjaan-pekerjaannya secara berkesinambungan; sebab dengan begitulah mereka mempertahankan keikhlasan dan kerendahan hati di depan Allah SWT, mematikan luapan kebanggaan setelah prestasi-prestasi besarnya, sembari berdoa di antara deru kecemasan dan harapan agar Allah SWT berkenan menerima mereka sebagai pahiawan-pahlawan-Nya.

 Apa yang dibutuhkan dan harus dimiliki pahlawan?

Pengorbanan dan daya  cipta material adalah kekuatan.   Namunn  apa yang harus  dilakukan seorang pahlawan   jika harta dan sarana yang diciptakannya, dan ingin dikorbankannya di jalan cita-citanya, ternyata tidak sampai memenuhi total kebutuhannya? Itu adalah sisi kepahlawanan yang lain. Apa yang teruji dalam situasi itu adalah seberapa percaya ia kepada dirinya sendiri, kepada cita-citanya, kepada Allah, di tengah semua keterbatasan itu, seberapa ‘nekat’ ia melawan tekanan keterbatasan itu, seberapa cerdas ia mensiasati keterbatasan itu, seberapa efisien ia dalam keseluruhan hidupnya.

 Di  tengah keterbatasan, namun menuntut  harus melahirkan  sebuah karya kepahlawanan, ini  adalah kepahlawanan yang lain. Tapi ini memaksa kita mencari penafsiran yang lebih utuh tentang semua faktor yang mempengerahui proses penciptaan karya kepahlawanan tersebut. Pertanyaannya adalah jika kecukupan sarana dan harta terhadap kebutuhan penciptaan karya kepahlawanan tidak seimbang, maka faktor apakah yang menjelaskan lahirnya karya tersebut? Berkah. Itulah rahasianya! Semua arti berkah bertemu pada makna pertumbuhan dan pertambahan. Berkah terjadi pada waktu, ilmu, dan harta. Intinya: produktivitas yang tercipta dari waktu, ilmu, dan harta melampaui nilai nominalnya. Berkah terjadi pada sesuatu yang sedikit namun menghasilkan banyak. Tapi darimanakah datangnya berkah? Berkah adalah karunia Ilahiyah-yang biasanya diberikan pada puncak spiritualitas seorang pahlawan sejati; pada puncak keikhlasannya, kejujurannya, keberaniannya, tawakkalnya, kesungguhannya; pada puncak di mana ia melakukan segalanya secara habis-habisan. Berkah adalah rahasia para pahlawan sejati; rahasia yang menjelaskan hukum tentang yang sedikit, namun menghasilkan banyak, rahasia tentang kerja akidah dan iman dalam dunia materi kita

Tradisi perlawanan selalu lahir dalam kesunyian. Ketika kekuasaan berubah jadi momok yang menyeramkan: tirani. Sementara semua mulut terbungkam ketakutan, sejarah menjadi milik para penguasa. Kamu hanya sedikit di sini. Bahkan, mungkin sendiri. Kamu mungkin disebut pengkhianat bangsa. Tak ada gemuruh tepuk tangan yang menyebutmu pahlawan. Sunyi. Sepi. Tapi, kamu hams menyerahkan darahmu. Nyawamu. Mungkin suatu saat perlawananmu jadi arus. Arus besar yang menumbangkan tirani. Tapi saat itu, mungkin kamu sudah tidak ada. Waktu kamu melakukannya pertama kali, kamu hanya sendiri. Sendiri. Tapi, itulah yang membuatmu abadi. Abadi dalam kenangan manusia. Abadi bersama bidadari di surga. Kamu melakukan yang tidak dapat dilakukan orang lain. Kamu melakukan jihad. Bukan. Jihadnya jihad. Melawan dalam sepi itulah susahnya. Melawan sendiri itulah kepahlawanannya. Memang apa yang kamu lawan? Kekuasaan. Kekuasaan yang memiliki semua. Semua orang. Semua uang. Semua simpati. Sementara kamu, kamu tidak punya apa-apa. Kamu hanya mewakili dirimu sendiri. Tekadmu sendiri.

Darimana dan dimana lahir sosok pahlawan?

Betapa ketakutan suatu bangsa akan hilangnya eksisitensi   di kala sudah tidak ada lagi populasi  manusianya, sehingga tidak ada gunanya kecanggihan teknolgi, kemajuan ilmu dan berlimpahnya materi di kala sudah tidak ada manusia yang akan mengerakkannya. Hari ini, Amerika, Jepang, China dan singgapura sebagai Negara yang mewakili Negara uang memiliki kemadrian dan kemapanan materi, sangat mengkhawatirkan hal tersebut, ternyata kemandirian perempuan tanpa batas  dan berkiprah dengan tuntutan  kondisi yang harus sama dengan laki-laki menyebabkan perempuan  tidak mau direpotkan dengan kesibukan menjalankan kodrratnya sebagai seorang perempuan yakni melahirkan  karena  ini menjadi hambatan untuk mnecapai kesetaraan gender disebutnya. Berbagai kebijakan UU, dukungan anggran  yang memberikan kemudahan dan fasilitas yang disediakan Negara untuk mendorong perempuan mereka  agar mau  melahirkan generasi ternyata tidak membuat perempuan tertarik… Maka di saat perempaun tidak mau lagi menjalankan kodratnya  untuk melahirkan, maka sebenaranya bangsa  itu kehilangan peluang untuk mendapatkan lahirnya banyak pahlawan.  Inilah jawaban ketika kita bertanya  darimana lahirnya pahlawan, tentunya adalah dari perempuan yang berkualitas, kualitas secara pemikirannya, fisiknya dan kualitas spiritual  yang akhirnya membangun karekter yang kuat.  Perempuan inilah yang mendidik lahirnya sosok-sosok pahlawan berikutnya. Setelah lahir sosok calon pahlawan, tentunya membutuhkan lingkungan unutk menguji nyali,  jiwa kepahlawananan  serta pengokohan kepahlawannya, dimana? Tentunya adalah keluarga.  Keluarga, sebagai tempat pertama, manusia   belajar tentang banyak hal tentang nilai, falsafah hidup , keberanian, kejujuran , keihlasan,  berempati, peduli, pengorbananan, kasihsayang, dll. Keluargalah  basis pengokohan jiwa kepahlawan tersebut. Selanjutnya tugas kita adalah bagaimaana  melahirkan sosok perempuan Indonesia yang berkualitas dan berkarekter dan menjadikan Kelaurag Indonesia keluarga yang berkualitas, sehingga SOSOK –SOSOK PAHLAWAN AKAN LAHIR. DAN TIDAK AKAN SULIT LAGI MENCARI SOSOK PAHLAWAN DI INDONESIA.  Inilah yang harus menjadi renungan dalam bagi kita dalam memperingati Hari Pahlawan..  

Dr. Astriana Baiti Sinaga MS.  

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*