Home » Opini » TAFSIR “PERUBAHAN” PADA CITA-CITA KARTINI
ilustrasi rotasinews.com
ilustrasi rotasinews.com

TAFSIR “PERUBAHAN” PADA CITA-CITA KARTINI

Di tengah kondisi ekonomi yang semakin sulit, mirisnya penegakan hukum, trust (kepercayaan) yang pudar, politik yang memanas, dan berbagai permasalahan bangsa yang ruwet, namun 21 April tentunya memberikan arti tersendiri bagi kaum perempuan, karena pada tanggal tersebut adalah hari Kartini. Kartini, dianggap sebagai sosok pejuang kebangkitan perempuan. Perayaan yang selalu identik dengan acara-acara serimonial, dimana perempuan berpakaian kebaya, bersanggul persis sosok Kartini, yang ada di dalam fotonya. Perayaan acara ini menyedot perhatian yang besar, mulai dari perlombaan berbusana kebaya seperti Kartini di sekolah Taman Kanak-Kanak sampai pada bentuk acara kajian, seminar atau diskusi, namun hanya sampai pada tataran wacana dan gagasan. Agaknya kita salah mengintreprestasi perjuangan beliau. Kita masih terbata-bata memaknai apa sebenarnya cita- cita beliau. Kilas balik sejatah kehidupannya tentunya menjadi keharusan agar kita bisa menempatkan kembali apa sebenarnya yang diinginkan Kartini.


Kartini dan Sejarahnya


Kartini merupakan anak perempuan tertua, anak ke lima dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Di lahirkan dari keluarga ningrat Jawa. Setelah pernikahan ayahnya, R.M.A.A Sosroningrat dengan ibu tirinya, Raden Ajeng Woerjan, ayahnya diangkat menjadi bupati di Jepara. Keluarga kartini adalah keturunan orang-orang cerdas, dan ini terlihat pada kakekknya yang mampu menguasai 26 bahasa. Dan kecerdasan ini juga mengalir pada sosok Kartini, walaupun beliau hanya sampai pada tingkat sekolah rendah (sekolah dasar), namun dorongan keinginan tahuan dan semangat untuk perubahan memacu dia untuk senantiasa mengasa kemampuan analisa ( daya pikikr) dengan banyak membaca dan berdiskusi, hasilnya beliau mampu memetakan masalah yang terjadi dan berani memberikan kritik dan saran-saran kritikan yang konstruktif dan konkrit kepada kebijakan Pemerintah hindia Belanda pada saat itu.

 
Kartini yang berasal dari keluarga ningrat, yang dalam aturan adatnya harus bergaul dan berinteraksi dengan orang yang memiliki status yang sama dengannnya, membuatnya memiliki keterbatasan teman bergaulnya, namun kondisi inilah awal penentangan jiwanya terhadap keadaan yang tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya, baginya tata adat yang kaku, rumit dan sedikit tidak manusiawi, memasung orang untuk tidak bisa berpikir rasional, bertindak jujur, tidak mandiri, bahkan membuat orang selalu memiliki rasa rendah diri ( inferior), kerdil, pesimis dan menyerah dengan keadaaan ( tidak punya masa depan). Kartini memiliki penterjemahan tersendiri dengan keadaan ini, yakni bagimana merubah kondisi ini dan darimana memulainya?. Begilah cara seorang Kartini yang cerdas dalam memberikan tafsir sosial di masanya. Cita- cita perubahan ini menujukkan kepada kita Kartini adalah sososk wanita yang memiliki visi dalam hidupnya. Namun kesendirian Kartini dalam menggapai wujud cita-cita yang luhur ini justru dimanfaatkan orang – orang Belanda sebagai upaya mencapai tujuan pembaratan bumiputera dan target misionarisnya.


Pada awalnya, J.H. Abendanon, yang jabatannya sebagai Pengarah Jabatan Pendidikan, Agama dan Kerajinan, dengan sangat intensif dan serius memberikan perhatian khusus kepada Kartini tiga bersaudara, atas arahan Snouck Hurgronje, seorang misinori Kristian sekaligus penasihat pemerintah Hindia Belanda. J.H. Abendanon dan didukung oleh istrinya inilah yang kemudian banyak memberi pengaruh dengan mengenalkan Kartini kepada orang-orang seperti Dr Andriani, seorang ahli bahasa sekaligus pendeta, yang kemudian menjadi teman surat menyuratnya. Bahkan Abendanon juga mendatangkan seorang guru privat bahasa Perancis, Annie Glasser untuk Kartini, tanpa dipungut bayaran( gratis). Annie Glasser inilah sekaligus menjadi “mata-mata” bagi Abendonan untuk seluruh detail perkembangan Kartini. Informasi dari Annie ini jugalah menjadi modal argumentasi dan diplomatis bagi Abendanon membatalkan keberangkatan Kartini ke Belanda, karena mereka khawatir keberangakatan Kartini akan menjadi hambatan dalam pembaratan wanita-wanita Jawa pada saat itu. Betapi pentingnya sosok Kartini, karena dianggap sebagai SDM yang sangat berpotensi. Kegagalan keberangkatan Kartini ternyata tidak membuat dia berhenti untuk berpikir, dia adalah wanita yang terus membuka cakrawala berpikirnya dengan senantiasa meningkatkan kemampuan daya analisisnya, dengan banyak membaca tentang berbagai hal khususnya tentang pergerakan perempuan di Eropa.. Tak cukup dengan itu Kartini pun mencari orang lain, agar kehausannnya akan banyak informasi dapat terpuaskan, salah satunya adalah sahabat penanya, Estella Zeehandelaar, seorang aktivis wanita gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengajar Kartini berbagai idea modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Kemudian Estellah yang memberikan banyak informasi tentang Kartini kepada tokoh sosialisme H.H. van Kol dan C.Th. van Deventer (penganjur “Haluan Etika”). Dan H.H. van Kol ternyata memiliki agenda tersembunyi dibalik perjuangannya untuk memberangkatkan Kartini ke negeri Belanda, yakni untuk menangkan partainya( Partai Sosialis) di Parlemen. Kehadiran Kartini secara langsung di hadapan Pejabat-pejabat tinggi Hindia Belanda menjadi sumber informasi yang sangat valid untuk mengungkap fakta- fakta penyelewengan Pemerintahan Hindia Belanda di tanah jajahan. Di samping itu juga Nyonya Van Kol dengan agresif mendangkalkan aqidah Kartini, dengan nilai – nilai Kristennya, pada saat Kartini ingin kembali kepada fitrahnya.Kegenjarannya itu berhasil merancukan pemahaman Kartini dengan konsep ketauhidan menjadi konsep trinitas Kristen.

 
Kartini dan Cita-cita Perubahan


Sahabat-sahabat Kartini, baik yang melalui surat menyurat dan yang berhubungan langsung memang memberikan peranan yang besar terhadap perubahan cara berpikir Kartini dalam memandang dan mengkritisi yang ada di lingkungannya, termasuk aturan budayanya yang menempatkan sesuatu terlalu berlebihan, . Dan Kartinipun menjadikan indikator kemajuan itu dengan parameter Barat. Namun cita-cita perubahan yang diinginkannya tersebut ternyata belum terjawab dan terasakan olehnya, walaupun upaya yang dilakukan oleh sahabat –sahabatanya sangat progresif. Dia terus mencari dan ternyata Allah menuntunya untuk kembali kepada fitrahnya. Pengalaman masa kecil untuk untuk mempelajari dan memahami Al quran dengan cara yang tidak menyenangkan menimbulkan penolakan pada diri Kartini. Bagi Kartini mempelajari sesuatu berarti dituntut untuk memahami hakekatnya, termasuk mempelajari Al Qur’an, penafsiran yang jelas tentang kandungannya akan mengantarkan pehamahaman yang benar. Itulah yang tidak didapatkannya dari guru sebelumnya, sampai beliau bertemu dengan seorang ulama besar, Kyai Sholeh Darat pada saat memberikan pengajian di rumah pamannya., Pangeran Ario, seorang bupati di Demak. Pertemuan pertama ini memberikan kesan ( atsar) yang sangat mendalam buat Kartini, yang seakan akan menjadi jawaban pencahariannya di dalam hidupnya. Dia menemukan hal yang sangat berbeda pada diri Kyai Sholeh Darat dalam menyampaikan penjelasan tentang Islam melalui tafsir Al Quran. Bahkan efek dari penjelasan surat pertama dari Al Qur’an telah menimbulkan efek yang sangat dasyat pada diri Kartini, menguncang jiwanya, menggetarkan perasaan dan hatinya, menghentakkan alam sadarnya akan kebenaran yang dicarinya dan pada akhirnya Kartini mengeksperisikan wujud kesyukurannya akan nikmat Ilahi ini dengan komitmen untuk belajar memahami Alquran.
Namun sayang sekali, dalam waktu yang singkat takdir Allah menentukan Kyai Sholeh Darat dipanggil olehNYA, ini bermakna bahwa Al Qur’an belum selesai diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Kartini pun baru hanya selesai mempelajari Alquran terjemahan berbahasa Jawa pada Surah Al baqorah ayat 257. Ternyata kata Minazh Zhulumaati Ilan Nuur, dalam ayat tersebut yang bermakna dari gelap kepada cahaya, dijadikan Kartini sebagai momentum perubahan mendasar dalam hidupnya, dari pemikiran jahiliyah kepada pemikiran hidayah. Betapa sangat responsifnya dia dalam memaknai ayat-ayat yang dipelajari, keselaran sikap pendengarannnya dibuktikan dengan perubahan berpikir dan berperilakunya. Mungkin kita mencoba membayangkan bagaimana seandainya sosok Kartini sampai surat Annur ayat 31, tentunya Kartini sudah memakai busana muslimah,menutup auratnya dan menjaga iffah ( harga dirinya) dan bermuamalah sesama dan lawan jenis dengan bentuk penghormatan yang menghargai ( bukan ditentukan status sosial, dan aturan adat yang rumit). Tentunya perayaan Kartini pada masa ini tentunya tidak lagi identik dengan baju kebaya dan sanggul berkonde. Inilah yang perlu diterjemahkan dengan cita-cita perubahan yang dimaksudkan Kartini.
Kata Minazh Zhulumaati Ilan Nuur menjadi sebuah konsep dasar tentang sebuah keyakinan yang benar., dan tolak awal perubahan diri bagi Kartini, yakni perubahan pola berpikir. Ini dibuktikan, bagaimana Kartini menyampaikan kritikan yang konstruktif, gagasan, dan pandangan visionernya yang disampaikannya untuk mengkritisi problem sosial, khusus masalah perempuan yang ada di masanya didasari kebenaran nilai-nilai.Inilah cita-cita Kartini yang disalah artikan dengan intresprestasi yang salah saat ini. (baca: kutifan surat Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902, ‘ Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-sekali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan ke dalam tangannya, yakni menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama). Di sisi lain juga Kartini memiliki keberanian yang luar biasa untuk menentang nilai dan implementasinya yang tidak sesuai dengan nilai kebenaran, walaupun pada awalnya dia sangat mengaguminya (baca: kutifan surat beliau kepada Ny.E.E.Abendanon, Kartini mencela Barat) Kita patut bangga dengan Kartini, dalam kesendirian perjuangannnya, dia mampu konsisten dengan sesuatu yang dianggapnya benar, walaupun dia harus beda dengan lingkungannnya bahkan Kartini memiliki tekad untuk membela, memperbaiki citra keyakinannya, karena dia memiliki kebanggaan akan kebenaran keyakinannya.( baca : suratnya kepada E.E. Abendanon, Januari 1903, Kartini menentang Praktek Kristenisasi). Begitulah cerdasnya Kartini.


Minazh Zhulumaati Ilan Nuur, inilah kalimat yang menjadi ruh revolusi pemikiran Kartini sehingga mampu menjadi sosok wanita berdaya. Ruh revolusi pemikiran yang bersumber dari nilai- nilai Rabbani. Dan kalimat ini pula yang selalu menjadi kata pembuka dan pernyataan penutup dalam penyampaian pandangan, gagasan kritikan Kartini untuk semua surat kepada sahabat-sahabatnya. Sangat disayangkan kemudian, kalimat Minazh Zhulumaati Ilan Nuur, diterjemahkan oleh Armijn Pane ( Kristen) menjadi “ Habis Gelap Terbitlah Terang”, tentunya ini memiliki tafsiran dan makna yang sangat dangkal dari yang sesungguhnya, dari Kegelapan menuju cahaya (dari kejahiliyan menuju hidayah Allah).


Tafsir “Perubahan” Pada Cita-Cita Kartini


Minazh Zhulumaati Ilan Nuur, inilah tafsir perubahan yang dimaksudkan Kartini dalam citanya citanya. Gagasan atau pandangan visionernya yang disampaikannya untuk mengkritisi problem sosial, khusus masalah perempuan (baca: kutifan surat Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902) yang menyerukan untuk diselenggarakan pendidikan perempuan, Kartini memberi catatan akhir esensinya yakni: “ bukan buat saingan laki –laki , untuk berkualitas melakukan peran, peran strategis perempuan membangun peradaban( ibu pendidik). Menunjukkan betapa progressifnya pola berpikir Kartini untuk menyiapkan perempuan yang berkualias. Perubahan pola berpikirlah yang membuat Kartini tampil menjadi sosok wanita yang berbeda dari kaum pada saat itu. Gagasan, idea, keberanian mengambil keputusan, sikap yang konsisten yang ada pada Kartini, semuanya berawal dari Perubahan Pola Pikir ( Mindset), artinya kalau kita para wanita menginginkan terjadinya perubahan dalam kualitas hidup wanita maka harus dimulai dari perubahan Pola Pikirnya, yang bisa dilalui dengan pendidikan formal maupun non formal.

Pola Berpikir ( Mindset) dan Perubahan


Mindset, dapat diartikan Beliefs that affect somebody’s attitude, a set of beliefs or a way of n mempengaruhi sikap seseorang; Sekumpulan kepercayaan atau suatu cara bepikir yang menentukan perilaku, pandangan, sikap, dan masa depan seseorang). Atau dalam defenisi lain diartikan A fixed mental attitude or disposition that predetermines a person’s respon to and interpretations of situations. (Sikap mental tertentu atau watak yang menentukan respons dan pemaknaan seseorang terhadap situasi.). Jadi Mindset dapat diartikan sebagai serangkaian kepercayaan (set of beliefs) atau cara berpikir yang mempengaruhi perilaku (behavior) dan sikap (attitude) seseorang yang akan menentukan kualitas hidupnya (baca: masa depannya).
DR. Bill Gould, seorang pakar Transformational Thinking, menjelaskan bahwa manusia terdiri dari (tiga) sistem yang disebut sebagai Triune Human System. Sistem Perilaku (Behavior System), Sistem Berpikir (Thinking System) dan Sistem Kepercayaan (Belief System). Perilaku akan kelihatan melakukan interaksi dengan realitas dunia luar, karenanya pengalaman mempengaruhi sistem perilaku (dan juga sebaliknya), sistem perilaku mempengaruhi sistem berfikir. Sistem Berpikir berlaku sebagai filter dua arah yang menyeleksi dan menterjemahkan kejadian atau pengalaman untuk masuk dan menjadi kepercayaan. Dan sistem kepercayaan ini akan mempengaruhi tindakan kita atau sistem perilaku. Kembali kepada sosok Kartini, perubahan mindset inilah membuat Kartini confidence ( Percaya diri), progresif ( berpikir jauh ke depan) berani mengambil keputusan, mengungkapkan pandangannya. Cita- cita Kartini yang dituangkan ke dalam gagasan, tidak sekedar menjadi sebuah Justifikasi Pejuang Kebangkitan Perempuan tetapi pertanyaan yang mendasar adalah, “Apa Dan Bagaimana” gagasan itu bisa lahir dari Kartini, jawabannya adalah dari Transformational Thinking Kenapa hal ini perlu penajaman, agar kita tidak kehilangan makna mentafsirkan cita –citanya, karena apabila kita semua wanita melakukan perubahan pola pikir ( Mindset) dengan bingakai kalimat Minazh Zhulumaati Ilan Nuur maka akan lahir banyak cita-cita yang luhur, gagasan, idea, pandangan yang progressif yang didasari nilai-nilai Rabbani. Kita akan menempatkan dan menemukan solusi masalah ummmat( khususnya masalah wanita: ketidakberdayaaan wanitaaan, kekerasaan dalam Rumah Tangga, kesehatan, pendidikan, korban trafficking, buruh migrant, TKW dll) dalam takaran yang jernih,proporsional, tidak gegabah, tidak emosional , benar, akurat, riil bukan mengada-ada, bukan sibuk mempertentangkan dikotomi peran, dan mengunggat masalah diskriminasi atau menyalahkan keadaaan). Bahkan semangat perubahan bukan hanya dalam tataran idea atau gagasan tapi akan muncul Kartini- Kartini yang berani tampil menunjukkan inilah kami wanita pejuang dan yang harus menjadi mitra laki- laki yang memunculkan peradaban baru di zaman ini. Namun faktanya hari ini ketika wanita hanya menjadikan Kartini sebagai pahlawan wanita namun tidak melihat sisi dalam makna perubahan yang diinginkannya., maka seminar menjadi tataran konsep saja tapi gamang bagaimana merealisasikan dalam wujud kerja. Atau juga memiliki kesepakatan mengatakan bahwa Kartini inisiator kebaikan di zamanya namun sebagian besar wanita hari ini hanya menjadi pengekor dan pendukung keburukan karena ketidakfahamannnya. Kita tidak boleh menyalahkan zaman dan keadaaan kita. Maka kita jadikan perayaan Kartini di tahun ini menjadi momentum kontemplatif untuk merefleksikan sudah sejauh mana kita menterjemahkan cita- cita Kartini dalam implementasi kerja nyata. Yang dimulai dengan perubahan Mindset ( Pola Pikir) yang di dasari Nilai Rabbani( Ilahi).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*